-
BAGIAN-13 – Hari ke-12, 22 Mei 1998: Suamiku jadi Pangkostrad
Pagi hari ini
aku sudah punya rencana yang pasti yaitu mengontak suamiku, JL, di kantornya
lewat ponsel. Tentu saja aku sampaikan pula permintaan maafku karena aku telah
“kabur” tanpa sengaja dari rumah mertua.
Tapi ada satu
hal penting yang ingin ku-check
kembali kepada JL, yaitu kabar mengenai diangkatnya dia menjadi Panglima
Kostrad menggantikan Panglima waktu itu yaitu Letjen TNI Prabowo yang juga menantu
Presiden Suharto.
Kabar itu
justru kudapatkan dari kakak iparku, Willy Lumintang. Semalam ia menelepon aku
guna mengatakan bahwa suamiku akan menjadi Pangkostrad. Dari mana ia tahu kabar
itu kakak iparku tak mau bercerita sama sekali. Panggilan ponselku kepada JL
sampai pula padanya segera pagi itu. Lalu kuceritakan apa saja yang aku alami
kemarin termasuk kelupaan berpamitan kepada mertua. Kukatakan kepadanya kalau
Willy mendengar adiknya akan diangkat menjadi Panglima Kostrad.
“Apa
benar begitu?” tanyaku. JL hanya menjawab kalem, “Iya…itu katanya….tapi Pak
Wiranto sudah bilang kalau sayalah yang paling cocok dari ketiga calon yang
ada.”
Menurutku
itu wajar sebab sebagai Asisten Operasi tentunya tahu betul di mana saja
pasukan berada dan berapa jumlahnya. “Namun itu belum pasti, karena Papa belum
mendapatkan Sprint (Surat Perintah) dan Printlak (Perintah Pelaksanaannya),”
sambungnya lagi. “Oh, ya sudah,” jawabku singkat.
Pada
kira-kira pukul 11.00 siang harinya suamiku menelepon bahwa ia telah mengetahui
Surat Perintah dari Pangab sudah diterbitkan, tapi secara pribadi ia belum
menerimanya.
Lalu
pada pukul 13.00 datang telepon dari ajudan JL, Serma Gito, yang dengan
tergopoh-gopoh mengatakan bahwa menurut informasi yang didapatnya Sprint sudah
di tangan Bapak (maksudnya suamiku). “Tapi Pintlaknya belum, Bu,” katanya
selanjutnya.
Tentunya
kalau JL benar-benar jadi Panglima Kostrad maka dia akan mendapatkan tugas,
beban tanggung jawab tidak kecil. Sebagai istri yang telah mendampingi suami
yang bertugas sebagai prajurit aku memahami betapa berat rintangan dan
tantangan yang akan dihadapi suamiku. Ia akan mengemban tugas berat. Selama ini
ia selalu diterjunkan pada saat-saat genting dan ia menurutku selalu berhasil
menjalankan tugas yang dibebankan ke padanya.
Hari
itu aku merasa perjalanan waktu amat lambat dan menyiksa. Sekitar pukul 16.00
petang datang lagi informasi dari ajudan. Kali ini berita bahagia nampaknya.
Printlak sudah di tangan JL dan akan dilangsungkan serah terima jabatan segera
hari itu dengan Pak Prabowo Soebianto.
“Wah,
Bu, ada berita gembira. Printlak sudah di tangan Bapak. Tapi Bapak sulit
menghubungi Ibu sebab beliau diminta selalu mendampingi Pak Bagyo (KSAD
Jenderal TNI Soebagyo),” tutur Gito.
Sejam
berlalu aku mulai gelisah menanti kabar perkembangannya. Aku bertanya-tanya
apakah serah terima jabatan (Sertijab) sudah dilaksanakan atau belum. Tak ada
kabar apa-apa. Aku lalu menghubungi Gito lewat ponselnya.
“To,
omong-omong Pak Prabowo-nya sudah ada atau belum?” tanyaku pada ajudan JL.
“Belum
kelihatan tuh, Bu. Saya juga bingung mau serah terima jabatan dengan siapa
nanti itu….,” jawab Gito dengan sungguh-sungguh.
Aku
semakin bingung dengan keadaan seperti itu. Ada apa ya? Pokoknya keadaan waktu
itu sangat membingungkan, penuh tanda tanya besar.
Kurang
lebih setengah jam kemudian datang lagi telepon dari Gito. “Bu, saya lihat ada
Pak Prabowo di sini, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam,” tuturnya.
“Baiklah
tolong ya To, saya sangat perlu Bapak,” kataku.
“Baiklah
Bu nanti saya sambung lagi,” jawabnya kemudian menutup hubungan teleponnya.
Pada
sektiar pukul 20.00 JL meneleponku. Ia berkata: “Aduh, sudah sekian lama aku
enggak dengar suaramu…,” katanya dengan nada senang. Ketika kusinggung mengenai
serah terima jabatan ia menjawab: “Sudah, sudah selesai…saya sudah jadi
Pangkostrad.”
Hatiku
bertambah lega. Dia sekarang bertambah maju lagi sebagai Panglima Kostrad. Aku
bangga padanya.
“Lha,
Sertijabnya di mana?” tanyaku, “Pak Prabowo terus di mana sekarang?”
“Enggak
Mah, Prabowo enggak ada….,” suaranya datar dan pelan sekali dan menurutku ia
agak kecewa saat itu. “Aku menerima tongkat komando dari KSAD Jenderal
Soebagyo…,” sambungnya.
“Jadi
Papah pulang atau tidak?” tanyaku. Ia menjawab tidak pulang dahulu.
“Tolong
antarkan baju preman sama baju dalamku karena aku langsung bertugas ke Markas
Komando Kostrad,” pintanya. JL meminta seluruh anggota keluarga berdoa agar
bisa menjalankan tugas berat sekarang ini. “Jangan Amin dulu, sampai besok.”
“Kenapa
Pah?”
“Karena
Papah harus mengeluarkan para mahasiswa seluruhnya dari Gedung MPR/DPR, tolong
ya Mah,” jawabnya. Aku mengingatkannya untuk berhati-hati berhadapan dengan
mahasiswa karena mereka ini anak-anak kita sendiri, keponakan sendiri,
saudara-saudara kita sendiri. Ia mengiyakannya.
Sekitar
pukul 23.00 KL menelepon lewat ponselnya. Katanya: “Mah saya sudah di Gedung
MPR/DPR . Tugasku berat tolong doakan lagi saya ya mah…”
Aduh
aku ikut-ikutan tegang sekali. Aku seolah ikut terjun ke lapangan dan merasakan
betapa pelik dan beratnya tugas JL sekarang ini. Aku kemudian menelepon
Mertuaku di Ratahan agar memberi doa kepada putranya yang sedang mengemban
tugas berat.
Kalau
saja mahasiswa gagal dikeluarkan dari gedung itu, entah apa jadinya esok,
kataku padanya.
Di
kemudian hari aku mendengar darinya bahwa suasana lobby dan ruangan-ruangan
kerja saat itu sudah kacau balau. Sebagian mebel (furnitur) ruangan rusak
berat, komputer berjatuhan di lantai dan semacamnya.
Setelah
beberapa lama sesudahnya JL bercerita bahwa ia berhasil mendekati para
mahasiswa dan mengatakan agar mereka meninggalkan gedung karena untuk menggelar
Sidang Istimewa esok hari. Para petugas kebersihan dari Pemprov DKI Jakarta
sudah siap untuk melaksanakan tugas membersihkan sampah dan kotoran lainnya di
Gedung wakil rakyat tersebut.
Para
mahasiswa mau mengerti maksud tersebut dan menyingkir dari Senayan. Mereka
menolak diantar pakai kendaraan milik Kostrad dan memilih diantar pakai
kendaraan milik Korps Marinir. Akhirnya serombongan demi serombongan para
mahasiswa meninggalkan Senayan menjelang dinihari.
(BERSAMBUNG – Bagian 14: Suamiku diberhentikan)
-
BAGIAN-12 – Hari ke-11, 21 Mei 1998: Pak Harto mundur
Pagi-pagi
sekali aku sudah minta agar pesawat televisi terus dihidupkan agar dapat
memantau perkembangan di Jakarta. Semalam aku sudah merasa sesak di dada memikirkan
keadaan yang semakin memanas itu. Aku sungguh heran kenapa pemerintah tidak
tanggap melihat perkembangan terakhir ini . Tapi sudahlah itu urusan orang-orang
di Jakarta. Presiden sendiri nampaknya kukuh sekali pendiriannya. Waduh, kalau
sudah begini bagaimana nanti jadinya?
Apakah
orang-orang di atas tidak memikirkan nasib rakyat yang sudah terhimpit berbagai
krisis itu? Sebagaimana biasanya udara pagi di Ratahan begitu sejuk. Sisa-sisa
dinginnya malam masih terasa hingga pukul 08.00 pagi waktu setempat atau 07.00
WIB. Di layar kaca repoter TVRI Magdalena Daluas sedang melaporkan perkembangan
terakhir dari Istana Merdeka Jakarta. Diinformasikan bahwa akan ada pengumuman
penting dari pemerintah menanggapi perkembangan situasi terakhir di tanah air.
“Waduh,
apalagi ini ya?” kataku. Semua anggota keluarga yang ada ramai-ramai berkumpul
di depan TV untuk menunggu perkembangan terbaru. Detik demi detik kami ikuti
dengan seksama. Kami semuanya terdiam mendengar laporan Magdalena Daluas, tidak
tahu apa yang akan terjadi di Jakarta.
Gara-gara akan
ada pengumuman penting itu maka rencana kami hendak ke gereja untuk mengadakan
kebaktian Kenaikan Isa Almasih tertunda. Kami lantas merubungi TV itu.
Gambar di
layar kaca menunjukkan sebuah ruang yang sering dijadikan tempat untuk
menyampaikan pengumuman penting atau konperensi pers. Sebuah podium kecil yang
ada lambang kenegaraan burung garuda nampak jelas, sedangkan di atasnya ada
sejumlah mikropon milik para reporter. Di sebelah kiri maupun kanan tampak
berjejer sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Pangab Jenderal TNI
Wiranto. Beberapa tokoh masyarakat, yaitu para ulama serta tokoh agama lainnya
nampak berjejer menunggu pengumuman pemerintah yang kabarnya akan disampaikan
sendiri oleh Presiden.
“Ada apa ya?”
kataku. Kami semuanya bertanya-tanya. Detik demi detik berlalu dengan penuh
tanda tanya. Detik demi detik itu pula suara reporter TVRI itu menyampaikan
reportasenya. Suaranya semakin pelan dan suasana nampak makin tegang.
Kemudian
muncullah Presiden Suharto ke podium dengan wajah tenang seperti biasanya dan
tetap dengan senyumnya yang terkenal itu. The Smiling General. Ia membuka suara
dengan mengucapkan salam dan kemudian membacakan pernyataannya yang tentu saja
akan amat bersejarah. Presiden Suharto menyatakan mundur dari jabatannya
sebagai presiden!
Dan yang
menggantikannya diumumkan pula yaitu Wakil Presiden BJ Habibie. Aku tersentak
kaget tak percaya akan apa yang terjadi di depan mataku. Pak Harto mengundurkan
diri setelah kukuh mempertahankan kekuasaannya yang sudah berlangsung begitu
lama? Tuhan, akhirnya Engkau telah memberi jalan.
Hari Kenaikan
Isa Almasih Kamis 21 Mei 1998, ternyata telah menjadi tonggak sejarah baru, di
mana Presiden Suharto menyatakan mundur setelah ada desakan dari kiri kanan sehingga
mengakhiri kekuasannya selama kurang lebih 32 tahun.
Entah apa yang
kurasakan waktu itu, apakah aku senang, apakah sedih, apakah terkejut? Tak bisa
kujelaskan secara gamblang . Yang jelas saja aku tiba-tiba tergerak untuk
kembali pulang ke Jakarta hari itu juga. Dorongan hatiku begitu kuat untuk
segera pulang ke rumah guna mengikuti perkembangan selanjutnya, terutama yang
bersangkut-paut dengan suamiku, Jl.
Dorongan kuat
itu langsung aku turutkan dengan meminta sopir untuk segera memesan tiket
pesawat ke Jakarta.
Hari itu aku
harus pulang ke ibukota! Aku tak peduli apakah bandara akan diblokir oleh siapa
pun juga! Kalau perlu aku rela naik ojek dari Cengkareng hingga ke Permata
Hijau bilamana terpaksa. Peduli amat! Yang penting hari ini aku harus tiba di
rumah. Titik!
Segera aku berkemas
terburu-buru dan sorenya aku sudah terbang pakai pesawat meninggalkan Bandara
Sam Ratulangi Manado menuju ke Sukano-Hatta, Cengkareng. Aku heran sekali
selama penerbangan dari Manado ke Jakarta aku tak terlalu ingat apa yang
terjadi. Pikiranku satu, yaitu agar cepat-cepat tiba di Jakarta. Sebelum
berangkat tadi aku menelepon adikku Evie dan suaminya, Christ, agar menjemputku
di Cengkareng, bila situasi memungkinkan. Bila tidak ya tidak apa-apa. Dalam
hatiku aku masih punya rencana B yaitu: naik ojek.
Pesawat
mendarat pada pukul 20.00 WIB dan ternyata adik serta suaminya sudah
menjemputku. Puji Tuhan.
Di Ratahan ibu
mertuaku justru yang ribut. Ia telah kehilangan anak menantu perempuannya yang
pergi entah ke mana tanpa pamit. Oh ya, aku sampai lupa berpamitan ke pada
mertuaku! Aduh!!!
(BERSAMBUNG – Bagian 13: Suamiku jadi Pangkostrad )
-
BAGIAN-11 – Hari ke-10, 20 Mei 1998: Gagal bujuk ‘Babe’
Pada keesokan
harinya terjadi perkembangan yang menarik. Waktu itu kami berkumpul di ruang
tengah rumah di Ratahan guna menyaksikan perkembangan politik di Jakarta.
Terlihat dalam
tayangan TV bahwa sejumlah tokoh masyarakat seperti KH Abdurahman Wahid, Dr.
Nurcholish Madjid, Emha Ainun Najib, dan lain-lainnya baru saja mengadakan
diskusi mengenai perkembangan terakhir di tanah air. Di lain bagian laporannya TV
menayangkan bagaimana aparat keamanan mulai memasang barikade kawat berduri
tajam di beberapa tempat.
Tokoh-tokoh
itu mengatakan bahwa Pak Harto masih nampak kukuh tidak mau bergeser dari
posisinya. Kudengar juga acara kumpul-kumpul di Monas yang semula digagas oleh
Dr. Amien Rais dibatalkan. Ia antara lain mengatakan tak perlu menambah korban
lagi hanya untuk menurunkan seorang kakek-kakek.
Mendengar itu
semua badanku merinding. Entah apa yang terjadi waktu itu, tapi ucapan Dr. Amien
Rais mengandung pernyataan samar-samar bahwa pengosentrasian demonstran di
Monas boleh jadi akan menjatuhkan korban selain mahasiswa Trisakti tempo hari.
Entahlah. Yang
jelas hatiku bertambah miris saja. Berita-berita lainnya sebelumnya mengatakan
para demonstran telah memasuki Gedung MPR/DPR tanpa dapat ditahan-tahan lagi.
Mereka menggugat Ketua MPR/DPR Harmoko untuk mendengarkan tuntutan rakyat dan
segera menentukan sikap.
Mereka
menuntut Sidang Umum Istimewa untuk meng-impeach
Presiden Suharto. Di layar kaca nampak mantan aktivis Angkatan 66 dan juga
salah seorang pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yaitu Dr. Adnan Buyung
Nasution berkata keras-keras kepada Harmoko untuk menyuarakan tuntutan rakyat
itu.
Sedangkan
suamiku, sedang ada di tengah pusaran politik yang santer tanpa jelas
juntrungannya. Tentu saja ia takkan terbuka padaku untuk hal-hal yang
sensitif tapi aku sudah merasakan
bagaimana repotnya posisinya di waktu itu.
Yang terlintas
dalam pikiranku waktu itu adalah yang penting semuanya selamat dan di bawah lindungan
Tuhan Yang Maha Kuasa. Dadaku berdebar-debar menunggu apa lagi yang akan
terjadi.
(BERSAMBUNG – Bagian 12: Presiden Suharto mundur!)
-
BAGIAN-10 – Hari ke-9, 19 Mei 1998: Makin panas
Aku masih
ingat bagaimana Presiden Suharto membikin kompromi-kompromi untuk tidak mundur
begitu saja, antara lain menawarkan perombakan kabinet dan sebagainya. Tapi
nampaknya gayung tak bersambut. Dalam sebuah berita yang dilansir oleh stasiun
TV asing yang tertangkap siarannya di Ratahan, Presiden Suharto dinyatakan
tidak jadi dan tidak mau mengundurkan diri.
“Aduh, gawat
nih,” kataku. Meskipun aku bukan orang politik, tapi ketika itu aku sudah
merasa bahwa akan terjadi gelombang kekerasan lagi, yang mungkin saja lebih
besar dari yang sebelumnya. Logikanya sederhana saja. Kalau ada dua kekuatan –
yaitu Presiden Suharto serta penentangnya saling bersikukuh untuk bertahan maka
clash pasti akan terjadi. Akan muncul
benturan-benturan yang dahsyat yang aku sendiri tentu tak mampu untuk
memperkirakannya.
Lalu
terbayanglah olehku kepulan-kepulan asap, kobaran api serta gelombang massa
liar yang mengobrak-abrik Jakarta, merusak, membakari dan membunuhi orang-orang
tak bersalah.
Ya Tuhan
jangan biarkan hal itu terjadi.
Masalahnya
jika ada dua kekuatan bertumbuk maka yang menjadi korban tidak ada lain lagi
kecuali rakyat yang tak berdosa. Para pemimpin di atas bertempur maka rakyatlah
yang akan menjadi korbannya, compang-camping terkoyak oleh badai kekerasan.
Jika ada dua gajah berkelahi maka pelanduk mati di tengahnya. Begitu kata
peribahasa yang selalu diingatkan oleh para leluhur kita.
Terus terang
hatiku gusar, sedih, dan jengkel melihat perkembangan terakhir itu.
Beberapa orang
tokoh masyarakat, di antaranya para pemuka agama, berusaha untuk menghadap
Presiden Suharto dan menasihati agar mundur supaya keadaan tidak bertambah
buruk lagi. Sampai malam harinya aku belum mendapatkan informasi mengenai
perkembangan politik yang baru.
Aku masih
sempat berhubungan telepon dengan suamiku, tapi pembicaran berjalan sangat
singkat. Kukira keadaan bertambah gawat.
(BERSAMBUNG – Bagian 11: Gagal membujuk ‘Babe’)
-
BAGIAN-7 – Hari keenam 16 Mei 1998: Anak jenderal-pejabat diancam
Keluargaku
terancam? Harus mengungsi?
Pagi ini aku
mulai menjalani hari dengan hati yang penuh kekhawatiran mengenai keadaan yang
saat itu sudah betul-betul chaos.
Setelah
selesai mengerjakan tugas-tugas rumahtangga biasa serta mengecek keadaan Mami
yang waktu itu sudah ditunggui oleh saudara-saudaraku tahu-tahu datanglah
kejutan!
Ajudan JL yang
lain, Serma Ujang, tiba-tiba muncul di rumah dengan agak tergopoh-gopoh. “Aduh,
ada apa lagi ini ya?” tanyaku dalam hati penuh was-was.
Serma Ujang
menyampaikan bahwa aku dan keluarga harus segera pergi meninggalkan rumah dan
terbang ke Manado guna menghindari kejadian-kejadian yang tak diinginkan. Semua
sudah disiapkan, dan pesawat akan lepas landas pukul 14.00. Semula aku
menyampaikan keberatan karena menurutku waktu itu aku belum perlu untuk
meninggalkan Jakarta apalagi rumahku. Namun Ujang setengah memaksa meyakinkan
diriku.
“Bu, dari
seluruh keluarga jenderal yang ada tinggal Ibu Johny Lumintang saja yang masih
berada di Jakarta,” tuturnya bersungguh-sungguh.
Wah, nampaknya
memang gawat sekali keadaannya sekarang. Tapi aku pun belum yakin benar-benar
bahwa aku dan keluargaku harus pergi, katakanlah mengungsi ke daerah asal
suamiku. Ternyata kemudian keragu-raguanku tiba-tiba terhapus total!
Anak jenderal-pejabat diancam
Ini dimulai
ketika aku menerima telepon dari keponakanku yang aktivis mahasiswa seperti
yang aku ceritakan dulu itu melalui ponsel. Dengan nada serius ia minta agar
Tante Sonya (aku) dan Kitty segera pergi dari Jakarta. Ia bercerita bahwa
anak-anak jenderal dan pejabat tinggi negara mendapat tekanan hebat dari pra
mahasiswa pengunjuk rasa.
Keponakanku
itu menyebutkan contoh, seorang putra pejabat tinggi negara di lembaga
legislatif mendapat ancaman dari teman-temannya. Leher bajunya dicekik dan
badannya ditekan ke dinding ramai-ramai sambil diancam agar mitna bapaknya
berhenti dari jabatannya. Anak-anak pejabat tinggi negara lainnya, menurut penuturannya,
sudah banyak yang menghilang guna menyelamatkan diri.
Para mahasiswa
terutama sekali mengincar anak-anak pejabat militer. Gawat!
Nah, pada saat
mendengar saran dari keponakank itulah aku baru mulai ketakutan. Tak dapat
kubayangkan lagi bagaimana seandainya anak-anakkulah yang mengalami ancaman
seram seperti itu. Siapa yang dapat menjamin keselamatannya di tengah kobaran
emosi antipemerintah yang begitu tinggi waktu itu? Aku dan anakku Kitty
langsung berkemas secepat mungkin.
Menjelang
tengah hari Serma Ujan memebritahu kami harus segera pergi ke Bandara
Sukarno-Hatta guna menghindari kemacetan, apalagi dalam situasi yang serba
kacau-balau semacam itu. Semula akan diadakan pengawalan ketat oleh anggota
Paskhas TNI AU yang sudah saya sebutkan sebelumnya, tapi aku menolak. Terus
terang aku takut rombongan kami akan segera menarik perhatian massa dan apalagi
kalau tahu kami dari keluarga ABRI. Akiabt-akibatnya tak bisa diprediksi.
Aku usul agar rombongan
hanya terdiri dari satu mobil dengan empat penumpang, yaitu aku, Kitty, Serma
Ujang yang mengemudikan serta seorang pengawal dari Paskhas tersebut. Selama
perjalanan dari rumah hingga ke bandara tak henti-hentinya aku mengawasi
keadaan. Jakarta kini sudah kusut masai. Bekas ban yang dibakar, barang-barang
yang rusakbertebarak di jalan-jalan.
Kerumunan
massa semakin banyak saja ditambah dengan wajah seram-seram. Mereka jelas bukan
mahasiswa, tapi mungkin para preman yang mencari kesempatandalam situasi yang
kacau-balau tersebut. Sedapat mungkin kami harus berjalan kalem agar tidak
mencurigakan, tapi juga harus tetap waspada menjaga segala kemungkinan.
Di sepanjang
perjalanan itu pula aku begitu cerewet agar pengawal tidak menampakkan
identitasnya, apalagi kalau orang melihat senjata yang dibawanya. Jelas
berbahaya.
“Tolong simpan
sajalah,” pintaku.
“Mohon maaf
tidak bisa Bu. Senjata ini tak bsia dilipat. Tapi sudah saya sembunyikan di
jaket dan belakang kepala saya,” jawabnya dengan sabar. Dari radio di mobil
kudapat informasi pembakaran masih terus berjalan, penjarahan meraja lela.
Disebutkan terjadi kebakaran di pertokoan yang menghanguskan belasan orang di
dalamnya.
Laporan lain
menyebutkan anak-anak pejabat tinggi negara mendapat ancaman dan tekanan serius
dari pengunjuk rasa. Hatiku makin miris, dan desakan Serma Ujang agar kami
menyingkir dari ibukota tepat. Di kemudian hari kudapat berita bahwa semua
pejabat tinggi ABRI telah mengungsikan keluarganya ke kampung halaman
masing-masing beberapa hari sebelumnya. Serma Ujang benar.
Keadahan di
Bandara Sukarno-Hatta ketika itu tegang sekali. Sejak memasuki tol ke arah
bandara suasananya mencekam. Terdapat sejumlah kelompok orang atau pemuda yang
wajahnya seram-seram, mirip kriminal. Kami harus berhati-hati, menyamar sebagai
warga sipil biasa.
Aku tak henti-hentinya
berdoa. Berita di radio menyebutkan anggota tentara menjadi sasaran ejekan
bahkan penyerangan. Gubernur Sulut Mangindaan yang tiba dari Manado kesulitan
mendapatkan kendaraan umum, dan tak ada penjemput di sana. Ia pun menyewa ojek
untuk pergi ke Jakarta. Mungkin itu pengalaman menarik yang takkan terlupakan
olehnya.
Di bandara
suasana bikin miris. Banyak orang bergerombol, tak jelas identitasnya. Ini
membahayakan. Semula pengawal minta agar bsia mengawalnya sampai pesawat. Tapi
kutolak mentah-mentah. Aku khawatir massa mengenalinya sebagai anggota ABRI,
maka akan celakalah kami semua.
Aku dan
putriku turun dari mobil seolah-oleh penumpang biasa, dan aman sampai ke
pesawat, walaupun aku tetap merasa ketakutan.
Dari pesawat
kuliaht Jakarta kian banyak asapnya. Pikiranku tak keruan-keruan, melayang ke
mana-mana tak tahu apa yang akan menimpa kami nantinya, atau bagaimana
Indonesia setelah kejadian itu. Aku baru sadar ketika pramugari menawariku
minuman………..
Pesawat
mendarat di Manado sekitar pukul 16.00 WIT. Keadaan di sana tetap tenang
tenteram. Udara segar menyambut kami, penuh damai. Kalau pun ada orang
bergerombol di bandara, mereka adalah para kerabat yang akan menjemput saudara
mereka, umumnya dari Jakarta. Wajahnya rata-rata penuh kecemasan. Ketika
bertemu dengan saudara yang dijemputnya mereka langsung terlibat pembicaraan
ramai tentang keadaan Jakarta.
Penjemput kami
adalah Sersan Giman dari Kodim yang keliahtan bahagia kami selamat.
“Gimana
keadaan di Jakarta, Bu?” tanyanya.
“Lautan api,
Man.”
Kubayangkan
bagaimana kami harus menembus kerusuhan di Jakarta tadi. Kami tiba di Ratahan,
tempat tinggal mertuaku dengan aman. Udara terasa lebih sejuk dan lebih damai
di tempat yang sejuk dan indah tersebut…setidaknya sampai saat itu!
(BERSAMBUNG – Bagian 8: Mundur! Teriak mereka)





