Nostalgia
Shalimar versi ringan eau de toillette


           Namanya indah seharum wangi parfumnya, yaitu Shalimar, Rumah Cinta. Parfum ini memiliki aroma ketimuran kental dan bertahan sejak 90 tahun silam. Shalimar diciptakan pada tahun 1921 oleh Jacques Guerlain, pembuat wewangian tersohor asal Prancis Selatan yang kemudian membangun industri parfumnya di Paris. Banyak tokoh dunia memakai parfum ini, termasuk Presiden Pertama kita, Ir. Sukarno.
          Sebenarnya Shalimar diperuntukkan bagi kaum perempuan, tetapi di kala itu belum ada pemisahan tegas peruntukan minyak wangi, hingga pria pun ikut memakainya. Guerlain terinspirasi oleh keindahan Taman Shalimar yang dibangun di Lahore (sekarang berada di wilayah Pakistan) oleh Syah Jehan untuk permaisurinya, Mumtaz, selain monumen Taj Mahal yang terkenal itu. Guerlain mendambakan parfum yang beraroma antik bunga-bungaan dan kayu-kayuan bernuansa ketimuran.
          Dikisahkan pada tahun 1921 itu, ia tengah meneliti bau vanili dan tanpa sengaja menumpahkannya di dekat ramuan lain yang berisi bibit minyak bergamot, melati, mawar, dan lain-lainnya. Efeknya mengejutkannya. Maka ia pun membuat ramuan itu. Pada tahun 1925, Shalimar diluncurkan lagi dengan botol rancangan Raymond Guerlain dan dibuat di Baccarat.
Tahun 1985 guna memperingati 60 tahun peluncurannya, Shalimar dikemas kembali. Kini Shalimar dipasarkan dalam bentuk ekstrak, eau de parfum, eau de toilete, eau de cologne dan fleur de Shalimar.
           Putra sulung Bung Karno, Guntur Sukarnoputra, punya pengalaman unik. Dalam bukunya Bung Karno, ayahku, temanku dan guruku, ia memakai Shalimar sisa milik ayahnya. Dalam satu pertemuan ia didekati seorang tante yang langsung menebak: “Ini parfum Shalimar Bapak ya?”
           Nampaknya si tante memiliki kenangan tersendiri tentang Bung Karno. Hingga kini Shalimar yang antik itu masih beredar di konter-konter Guerlain tertentu, di tengah berbagai parfum “modern” yang memasuki pasaran. Ia memiliki tempat tersendiri, karena nuansa bunga dan kekayuan Timur yang eksotis.
Oleh Adji Subela (Bagian-1)


Berbagai makanan khas daerah mampu mendongkrak perekonomian warganya lewat perjuangan tanpa henti para pioner mereka. Tanpa gembar-gembor, tanpa bantuan Pemerintah Kabupaten masing-masing, mereka mati-matian merintis penjualan produk makanan tertentu atau unggulannya, yang mungkin justru tidak berasal dari daerahnya sendiri, tapi mampu mereka jual dengan brand baru sendiri.
Ini terlihat di Jakarta, yang menjadi tempat berkumpulnya warga dari berbagai daerah. Bisnis mereka merambat berkembang ke sejumlah kota besar di luar Pulau Jawa, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya serta para famili yang ada di kampung halaman.
Mereka umumnya membawa para anggota keluarganya untuk berjualan di rantau demi alasan ekonomis karena tidak membayar mahal seperti mempekerjakan karyawan lain. Pada suatu saat nanti “anak didik” itu mampu mandiri mengembangkan usaha sejenis di tempat lain, dengan teknik serupa. Seiring berjalannya waktu, bisnis itu merambat, berkembang dan mampu menyejahterakan warga di kampungnya.
Mari kita lihat beberapa jenis makanan di Jakarta, dan mungkin juga berkembang di kota-kota besar lainnya, di antara sekian banyak macamnya, yang dijual oleh para warga daerah tertentu sehingga nama daerah itu melekat dengan produknya.

  1. Warung Tegal. Semula warung nasi sederhana saja melayani para tukang becak di Jakarta yang umumnya sama-sama berasal dari Tegal, Jateng. Di awal dasawarsa 70-an masakannya sangat serderhana, paling terdiri atas sayur-mayur seperti kubis, tauge, kacang panjang, ditambah tempe serta tahu goreng, sambal, kecap murahan dan sebagainya. Yang istimewa adalah porsi nasinya besar sehingga cocok buat tukang becak yang secara fisik berat pekerjaannya. Lama-lama warung ini populer di kalangan mahasiswa berkantong tipis, lantas berkembang hingga sekarang. Dengan datangnya warung Padang, para pemilik Warteg (Warung Tegal) belajar dan berbenah dan semakin baik makanannya, tempatnya, maupun pelayanannya. Mereka membawa sanak-saudaranya yang kemudian berkembang semakin marak. Pendapatannya mereka belikan sawah atau rumah yang cukup bagus di kampung halaman.
  2. Warung Padang. Sebenarnya ini warung nasi dari Sumbar, namun lebih terkenal dengan nama Warung Padang. Pelayanan warung Padang rata-rata baik standarnya, dan baku. Setiap tamu yang baru datang akan segera disambut dengan mangkuk cuci-tangan, serbet, serta air minum. Semula mereka tidak menjual makanan luar Minang, tapi di Jakarta, lama-lama mereka berkembang menjual masakan tahu-tempe, lalapan dan sejenisnya. Mereka umumnya membawa sanak-saudaranya yang kemudian berkembang berusaha sendiri. Sayang ketika mereka makin berkembang standar pelayanannya jadi tidak sama dibanding ketika mereka masuk ke Jakarta dulu. Hal ini tak terlepas dari lingkungan yang ingin serba cepat dan praktis. Kelihatannya terjadi pertukaran “sistem” atau selera antara Warung Padang dan Warteg lewat pelanggannya yang sering membeli di kedua pihak. Warung Padang kini lebih banyak melayani sistem ramas ketimbang cara saji komplet yang menjadi cirri khas mereka dahulu. Sedangkan Warteg mendapatkan pengalaman penyajian yang komplet dan rapi dari Warung Padang.
  3. Bakso “Solo”. Semua orang tahu, bakso adalah makanan asli China. Tapi sejak tahun 60-an, perantau asal Wonogiri berusaha membuat bakso versi mereka sendiri. Mereka menambahkan bihun, mie kuning, sayuran, tahu, dan belakangan taoge juga. Bakso mereka terkenal sebagai Bakso Solo. Semula mereka berkumpul di Tanjung Priok serta daerah pinggiran ibukota lainnya, membentuk komunitas sekampung pembuat bakso. Usaha itu lama-lama berkembang semakin banyak, dan kini restoran bakso modern bertebaran, pengusahanya kaya-kaya, karena dagangan mereka kemudian digemari warga dari klas lebih atas.
  4. Sate-gule “Solo”. Di ibukota dan sekitarnya banyak bertebaran warung sate-gule yang memakai brand Solo. Nama warungnya populer dengan nama-nama seperti Pak Min, Pak Jo, dan sebagainya. Padahal sebagian besar penjual sate-gule itu berasal dari Boyolali, satu kabupaten di sebelah utara Surakarta. Dengan memakai merk Solo warung mereka cepat berkembang. Mata dagangannya berupa sate, gule, tongseng, dan terkadang sop. Hampir semua bentuk, cara penyajian, dan rasanya nyaris seragam, jadi memiliki karakter tertentu. Sate gule “Solo” ini menguasai pasar Jabodetabek, dan sate-gule model lain kurang atau belum dapat diterima pasar yang umumnya klas menengah ke bawah.
  5. Bubur kacang hijau. Cobalah Anda tanya para penjual bubur kacang hijau dan ketan hitam di Jakarta. Mereka umumnya berasal dari Kuningan atau Majalengka, Jabar. Secara turun-temurun dan berkat bimbingan saudara pendahulunya, para penjual kacang hijau kian melebarkan bisnisnya. Pendapatannya baik dan dapat menyejahterakan anggota keluarga mereka di kampung. Kini warung mereka bertambah isinya dengan berbagai jenis mi instan, bermacam-macam minuman panas dan kue-kue ringan.
  6. Martabak Lebaksiu. Makanan berbahan baku telur, yaitu martabak, dipercaya berasal dari tanah India. Namun di sana sendiri ternyata tidak ada martabak. Kemungkinan ini hasil kreasi imigran asal India yang masuk ke Sumatra dan kemudian ke P. Jawa. Seorang pria asal Lebaksiu, Tegal, bekerja untuk WN India penjual martabak. Ketika sang majikan pulang ke tanah airnya, pria ini membikin sendiri martabak dan mengajak sanak-saudaranya dari kampung. Kini penjual martabak kebanyakan berasal dari daerah ini selain dari Bandung atau Bangka yang juga berkembang dengan cara ini. Mereka berhasil hidupnya sebagai tukang martabak secara turun-temurun, dan menyebar lewat hubungan kekeluargaan.
  7. Soto Madura made in Lamongan. Dahulu soto Madura amat terkenal di Jatim. Lalu popularitas itu dipakai warga Lamongan untuk menjual soto gaya mereka sendiri dengan brand Madura. Lama-lama soto tersebut berkembang, banyak orang Lamongan berusaha di bidang ini dan kini berani memakai merk sendiri, Lamongan. Soto Maduranya sendiri justru menghilang. Bisnis ini berkembang berkat sistem kekeluargaan juga, dan sudah menyebar ke berbagai koa besar di tanah air.
  8. Pecel lele. Sama seperti soto di atas, orang Lamongan menguasai pasar pecel lele di Jakarta, bahkan hingga ke luar Jawa. Tentu saja gaya masakan pecel lelenya amat berbeda dengan aslinya di Jatim. Tapi karena warung pecel lele model ini kian tersebar, maka resep aslinya justru tidak disukai publik “baru” tadi. Pecel lele mampu menembus daerah yang secara tradisional kuat konsumsi ikan lautnya, seperti Sulut, Gorontalo, dan Kalimantan. Semula orang Sulut dan Gorontalo tidak suka ikan lele, sebab di sana ikan laut berlimpah-limpah. Tapi orang Lamongan nekat masuk dengan menawarkan masakan pecel lelenya yang berbeda dan terbukti mampu bertahan dan berkembang. Selain pecel lele, para pedagang asal Lamongan juga mahir menjual produk seafood. Di Jakarta mereka menambahkan nasi uduk dan ayam goreng, dan menu lain untuk menjaring langganan.
  9. Sate Madura. Di era Presiden Sukarno, sate ayam dikenalkan ke manca negara. Sate ayam itu model Ponorogo, Jatim. Sate ini memang terkenal waktu itu, akan tetapi terlalu elite dan tidak memperhatikan pasar kelas bawah. Kesempatan ini dimanfaatkan orang Madura dengan menjual sate model Madura berkeliling Jakarta. Kini justru sate Madura yang sangat terkenal dan menguasai lidah orang Jakarta.
  10. Pecel Madiun. Pecel ini termasuk pendatang baru di ibukota. Oleh karena masyarakat Jakarta lebih kenal pecel lele terlebih dahulu, maka ketika pecel Madiun masuk pasar, disambut dingin. Orang sering kecele masuk ke warung Pecel Madiun, karena dikira berjualan pecel lele. Salah satu pioner pecel Madiun adalah Mbak Ira, dari keluarga penjual pecel daerah Klenteng Madiun. Tak kenal lelah ia dan suaminya mengenalkan pecel sayuran itu hingga 15 tahun kemudian usahanya berkembang sampai punya enam cabang di Jabodetabek. Para familinya menjalankan usahanya di tiap-tiap cabang. 

    ...bersambung


Cerita pendek
Ilustrasi - animasi oleh AS


Oleh Adji Subela *)

Setiap petang, ketika aku lewat di ujung Jalan Ledseplein, tepatnya di sebuah bundaran, kulihat banyak orang berkumpul di sana duduk-duduk sambil bercengkrama. Ada pasangan pria berkulit putih berpacaran mesra dengan seorang perempuan berkulit hitam, begitu pula sebaliknya. Ada pasangan hitam-hitam, putih-putih, tetapi tak ada yang berkulit sawo matang sepertiku. Paling-paling ada beberapa orang muda berkulit aneh, campuran antara hitam dan putih tadi. Anak-anak kecil berlarian di sekitar bundaran itu, bermain-main tanpa peduli siapa saja yang ada di sekitarnya. Kota Amsterdam seolah terwakili oleh bundaran di ujung jalan tersebut.
           Mataku selalu menangkap segerombolan pria yang asyik mengobrol di satu sisi bundaran. Ada pria yang bertubuh tinggi besar, dengan rambut keriting berwarna cokelat serta berkumis tebal tanpa janggut. Setiap pagi hingga petang ia rajin mengamen di sudut jalan. Di saat seperti itu, di punggunya tertempel sebuah tambur besar yang bertuliskan: Hermann the German, dengan huruf Jerman yang belepotan. Tangannya memainkan banjo sedangkan di lehernya tergantung tangkai penjepit harmonika. Lalu di kedua lututnya, ditempelkannya dua keping piringan kuningan.
          Hermann pandai sekali memainkan berbagai algu dengan bajo itu, dan setiap kali jika kaki kirinya menghentak, maka terdengar tambur itu berbunyi duk, duk, duk. Sedangkan jika kaki kanannya dihentakkan, maka terdengar bunyi creng, creng, creng. Pada saat yang sama ia mampu meniup harmonikanya sehingga dari seorang Jerman itu saja terdengar alunan musik yang merdu bagai keluar dari satu rombongan orkes. Sesekali, terutama pada akhir lagu, kedua lututnya ia adu hingga piringan kuningan itu mengeluarkan bunyi keras sekali. Topi vilt-nya yang sudah kumal ditaruh di depannya, di lantai, sebagai tempat menampung rejeki berupa uang recehan dari para dermawan yang lewat.
          Terkadang, tanpa persetujuannya, ia ditemani Gerda, seorang perempuan tua yang gila, yang menari-nari tak berketentuan di belakangnya. Orang yang lewat pun sering dibuatnya tertawa geli dan menganggap tarian ngawur itu adalah bagian dari atraksi Hermann. Pria Jerman itu sering pula membagi rejekinya kepada perempuan malang itu, dengan memberinya sigaret atau es krim.
           Setelah lelah mengamen di sudut jalan, pada petang harinya, Hermann lalu duduk bersama John, seorang juggler asal Inggris. Pemuda yang mengaku dari London ini memiliki tubuh atletis dan gesit, hingga ia mudah melakukan gerakan-gerakan akrobatik. Penonton suka pada atraksinya. Biasanya ia akan berbagi waktu dengan Tommy, pemuda asal Hengelo, kota kecil di perbatasan antara Belanda dengan Jerman, Pemuda yang bibirnya selalu menyungging senyum itu pandai bersulap. Ia sering mengikut sertakan penonton, terutama anak kecil, untuk dipermainkan di arena. Penonton bersorak-sorak dan si anak itu pun ikut bergembira pula.
           Selesai bekerja, mereka selalu berkumpul di bundaran itu untuk saling berbagi rejeki seperti sigaret atau kopi panas yang mereka dapatkan dari kotak otomat di seberang jalan.
Ada lagi seorang pengamen yang amat jarang berkumpul dengan mereka. Ia selalu mengenakan pakaian badut, dan bermain pantomim di tepi Jalan Ledseplein yang selalu ramai oleh pengunjung itu. Gerakan badannya amat lentur dan kentara sekali ia terdidik untuk itu. Ia sering membuat adegan lucu dan selalu ekspresif memainkan mimik muka serta gerakan-gerakan tubuhnya. Dengan mudah orang bisa menebak apa maksudnya, dan uang recehan lantas terdengar gemerincingan ke sebuah payung di dekatnya.
           Anak-anak kecil pun suka sekali padanya. Di jalan raya itu, di sisi kanan,ada sejalur rel trem kota Amsterdam. Bila petang, yaitu pada saat para pekerja keluar hendak pulang, jalan menjadi ramai, sehingga pengemudi trem menjalankan kendaraan itu pelan menyusuri jalan yang bersih dan teratur tersebut.
           Pada suatu petang si Badut tengah menjalankan pekerjaannya. Ia membuat gerakan orang yang sedang menari. Setelah trem mendekati tempatnya, mendadak saja Badut melompat ke tengah rel, lalu membuat gerakan seolah-olah ia duduk di bangku pendek taman sambil bermenung diri, miring menyangga kepala. Orang-orang memekik. Mereka nampaknya khawatir, tubuh Badut yang lucu itu bakal lumat!
           Trem ternyata berhenti, masinisnya tertawa terpingkal-pingkal. Ia biarkan Badut itu beraksi sebentar, kemudian setelah Badut selesai, ia jalankan lagi tremnya berlalu. Orang pun terbahak-bahak, bertepuk tangan dan lalu uang logam pun jatuh berdentingan ke dalam payung putih.
           Badut selalu datang pada petang hari dengan dandanan serba putih. Wajahnya diberi bedak putih metah, lalu mulutnya diberi lipstik merah menyala, serta digambar lebih lebar seakan-akan tertawa tanpa henti. Matanya digambar lucu sekali, seolah menangis lantaran tertawa tanpa henti.
           Sore seolah tak berarti tanpa kehadiran Badut. Ia seolah menjadi bagian lekat dan takkan terpisahkan. Paling tidak itulah apa yang kupikirkan saat tiba di Jalan Ledseplein. Acap kali kulihat ia di trotoar, selalu saja teringat aku akan temanku, yang menjadi anak wayang. Ia setia naik panggung pada malam hari di pentas sandiwara tradisional. Mukanya selalu disaput siwit tebal warna putih, lalu ia baut matanya seolah lebar berwarna merah. Mulutnya pun dibuat lebar, ketawa sepanjang masa. Tapi nasibnya tak pernah menyenangkannya, dalam arti apa pun. Ia selalu murung. Ia dilahirkan sebagai anak haram tanpa tahu siapa ayah-bunda kandungnya.
           Ditemukan oleh perempuan yang baik hati temanku itu diangkat sebagai anaknya. Semasa remaja temanku itu rajin mencari uang sebagai anak wayang, satu-satunya pekerjaan yang membuat hatinya senang. Hanya beberapa hari setelah meletus peristiwa 1965 tiba-tiba saja ia menghilang dan tak pernah kembali lagi, bahkan kabar tentangnya pun tidak ada sampai padaku. Entahlah di mana ia berada kini.
           Badut di Ledseplein itu kini seolah menjadi pengganti temanku dulu. Kupandangi ia lalu muncullah bayangan temanku itu. Selalu demikian. Oleh sebab itu tak mengherankanlah bila hampir setiap sore, aku pilih rute yang melewati Ledseplein agar dapat kutemui Badut di sana. Lalu temanku seolah benar-benar hadir.
          Sampai pada hari kesembilan belas aku tinggal di Amsterdam, hanya sekali saja aku tak melihatnya, yaitu ketika aku terlambat pulang ke hotel. Ini menjadi semacam siksaan yang keji, karena tak kutemui teman baruku itu. Sungguh aku menyesalinya.
Baru pada hari ketiga puluh satu, terjadi peristiwa yang selama ini aku takutkan, yatu ketika si Badut digiring polisi, atau mungkin juga petugas hukum lainnya. Baru sekira lima menit ia beraksi, para hamba wet itu mendekatinya, lantas berbincang pelan pada si Badut, seolah tak ingin mengganggu penonton.
           Seketika kulihat si Badut itu tertunduk lesu, lantas jatuh terduduk di depan etalase sebuah toko pakaian. Agak lama ia seperti itu dan para petugas itu pun sabar menungguinya.
Kulihat Badut terisak. Yang ini benar-benar isak tangisnya, dan bukan gambar di wajahnya. Kepalanya tertunduk dalam lalu disangga dengan tangan kirinya. Petugas tetap sabar menantinya. Badut itu pun kemudian mengemasi uang logam di payung, dituangkannya ke dalam sebuah tas pinggang hitamnya. Payung dilipat, lalu ia berdiri , tetap dengan kepala tertunduk lesu. Petugas memegang lengannya, kiri dan kanan, lalu membimbing Badut ke dalam mobil yang diparkir agak jauh dari tempat tersebut.
           Alangkah menyedihkannya. Seorang yang setiap hari menghibur orang-orang yang lewat di Jalan Ledseplein, kini digelandang oleh petugas dengan aptuh, tanpa daya, dan tanpa iringan tawa atau, apalagi, air mata siapa pun kecuali gambar air mata di pipinya. Jalannya amat pelan, seolah ia enggan meninggalkan sepotong jalan yang selama ini menghidupinya. Hermann tegak tercenung, John dan kawan-kawannya terpaku berdiri di seberang jalan. Gerda tidak ada. Sesekali Badut menoleh ke belakang dengan pelan, seperti hendak menyampaikan salam perpisahan entah ke pada siapa dan sampai kapan.
          Orang-orang lain pun menarik nafas sedih. Mereka mengikuti Badut kesayangannya dengan pandangan penuh kasih sayang. Begitu pula diriku. Aku kecewa tapi tentu siapa pun yang bersalah pasti takkan berdaya di hadapan hukum negeri itu. Kekecewaanku bertambah-tambah lagi ketika kemudian ingat bahwa sampai hidupku yang kesekian tahun, aku telah kehilangan dua orang badut.
Adakah negeri lain yang penuh dengan badut? Agar aku dapat ketawa sepuas-puasku tanpa dipotong nasib?

*) Cerita pendek ini pernah dimuat di SKH Waspada, Medan, 24 Agustus 2005, dimuat di sini dengan sedikit perbaikan.


Sebuah toko swalayan buah-buahan segar di Fitzroy menulis:
“Tuhan hanya menolong mereka yang menolong dirinya sendiri”


Ada  pub di Inggris yang menuliskan peringatannya:
“Harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung sikap Anda.”



Sebuah pub di Inggris menulis pengumumannya seperti ini:
Jika Anda minum untuk melupakan masalah, sebaiknya bayar dahulu harga minumannya.”


- Berangkat dari hobby kini melayani konsumen


               Luar biasa sekali apa yang dilakukan Heru Suseno (31 th) bujangan asal Pati, Jateng. Dia mendirikan warung K-5 dengan tekad ingin berwiraswasta, melepaskan diri sebagai karyawan. Bukan cuma itu saja, ia “ngotot” ingin memanjakan langganan dengan masakan segar dan rasa seenak-enaknya.
              Saung Seno menyajikan 85 jenis masakan tradisional, Barat, maupun Chinesefood. Cita rasanya yahud, serta penyajiannya lumayan rapi mirip resto classy. Banyak tempat makan yang menawarkan konsep harga K-5 kualitas hotel bintang lima, tapi kualitas makanannya betul-betul K-5, cuma tempatnya di pertokoan ber-AC. Saung Mas Seno tidak. Warung ini menyajikan rasa masakan enak macam di resto gedongan dengan penyajian rapi dan harga sangat terjangkau.
              Masakan unggulannya banyak, seperti bandeng bakar tanpa duri dengan bumbu mantap, ikan irca-rica a la Manado, sop kuah asam, soto, ayam bakar madu, dan nasi gandul Pati, satu jenis masakan yang disukai mantan Menteri Penerangan Harmoko. Ada lagi desert yang cukup merangsang seperti pisang salju, dan lain-lain.

Popularitas getok tular
JURNAL BELLA yang mengunjungi Saung Seno atas rekomendasi teman-teman yang justru termasuk “mati rasa”, langsung dapat mengendus kualitas olahan warung ini hanya dengan membaui asap masakannya. “Medok” kata orang Betawi. Kalau mereka yang “mati rasa” saja mengatakan enak, tentu istimewa bagi mereka yang “normal”.
Chinese foods, Western
Salah seorang pelanggannya adalah Didik (34), pengusaha percetakan, mengaku menjadi pelanggan Saung Mas Seno karena selain rasanya enak juga menunya lengkap untuk warung K-5 seperti ini. Setiap datang ia bisa memesan jenis masakan tradisional, Barat, atau Chinese dengan rasa semuanya cocok di lidahnya. Ia ditemui setelah “menyelesaikan” soto dan tengah menikmati secangkir Capuccino.
Hal yang sama dikemukakan A’an, pengusaha yang gandrung pada masakan ikan warung Saung Mas Seno, demikian juga Handelman, pemilik perusahaan desain. Ketiganya saling memberitahu keunggulan warung milik Heru Suseno ini.
Langganan saung ini memang didapat dengan cara kabar dari mulut-ke-mulut alias getok tular, rekomendasi dari teman ke teman seperti itu.
Bandeng bakar tanpa duri..mak nyuss betul
Seno sadar banyak konsumen yang ingin menikmati masakan dengan rasa optimal namun tidak harus pergi ke hotel berbintang atau café serta resto mahal. Ia lalu mendirikan Saung yang benar-benar saung di pinggir jalan Mampang Prapatan II, Jakarta Selatan, dibuka 31 Desember 2010. Warungnya itu diberi nama Saung Mas Seno atau pelanggannya menjulukinya SMS. Genap setahun beroperasi pelanggannya sudah sangat banyak umumnya para karyawan di wilayah itu, termasuk para staf sebuah stasiun TV nasional.
“Rasanya puas melayani konsumen dengan segala kemampuan yang saya miliki,” tutur chef yang belajar sendiri seni memasak alias otodidak ini.
Semula ia hanya berniat menjual pecel ayam saja, tapi permintaan konsumen makin bervariasi. Ini menjadi tantangannya, dan membuatnya kian bersemangat membuat inovasi baru.

Nasi Gandul khas Pati, kegemaran seorang mantan menteri
Memuaskan konsumen
            Ambisi Seno, anak bungsu dari 12 bersaudara, adalah memuaskan selera konsumen dengan masakan yang dimasak dan disajikan khusus untuk masing-masing tamu. Ia tahu benar selera konsumen sebab sejak lulus SMA tahun 2000 lalu ia bekerja di berbagai jenis restoran. Ia pernah bekerja di Papa Ron’s Pizza, Rice Bowl, Mister Bakso, dan lain-lainnya. Dari pengalamannya itu ia lantas tahu selera konsumen.
Hobinya memang memasak dengan cita rasa optimal. Sebelum mendirikan warungnya sendiri, ia bekerja sebagai manajer restoran seafood yang terkenal di Manado, mulai tahun 2008. Ia menikmati pekerjaannya, tapi setiap malam Seno mendapat semacam bisikan agar mendirikan restoran sendiri. Maka ia pun menabung gajinya dengan tekad akan mendirikan warungnya sendiri dan terealisasi akhir tahun 2010.
Ia memilih Mampang Prapatan II setelah berkeliling mencari-cari lokasi yang tepat. Seno merasa sreg dengan tempat dan lingkungan perkantorannya. Berbekal pengalamannya di bekerja di bidang restoran, ia mendekor saungnya dengan display menu fluorescence aneka warna seperti di restoran ternama di mall, kemudian membuat dekorasi yang justru jauh dari kesan K-5 umumnya. Selain itu disediakan leaflet sebagaimana restoran berklas.

Ingin buka cabang lagi

Ternyata pelanggannya datang dari berbagai kalangan karena harganya memang terjangkau sekali. Mereka sering membawa pulang pesanannya atau mengajak keluarganya di akhir pekan.
Saung Mas Seno di Jl. Mampang Prapatan II, nyentrik
Pada prinsipnya Saung Mas Seno buka 24 jam. Saat ramai terjadi sekitar jam makan siang serta malam hari waktu para eksekutif muda mampir menikmati masakan Seno hingga tengah malam. Hari ramai justru pada Sabtu dan Minggu. Sayangnya tempat parkir warung ini kurang memadai untuk menampung tamu-tamu.
Pisang salju, desert pas

Penginnya cari tempat yang lebih luas supaya pelanggan mudah memarkir mobilnya,” ujar Seno didampingi kakaknya yang sedang “magang” belajar mengelola restoran.
Atas keberhasilannya selama setahun ini, Seno berinisiatif membuka cabang di kota kelahirannya, Pati, di Jalan Wahidin No.12, dan menyerahkan pengelolaannya kepada Mbak Titik, kakak perempuannya. Ia pun ingin memanjakan konsumen dengan membuka cabang di tempat lainnya di Jakarta. Kini ia telah mendidik beberapa orang pemuda agar dapat menyesuaikan gaya masakannya dengan dia.









BUKU



 

 





Judul           : Bumi Manusia – Terre des Hommes
Penulis       : Antoine de Saint-Exupéry
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Desember 2011
Hak Cipta terjemahan
Bahasa Indonesia : Forum Jakarta-Paris
Editor        : Jean-Pascal Elbaz
Jumlah halaman : 224
Ukuran buku : 13,5 cm x 20 cm
               Buku ini pada dasarnya sebuah novel non-fiksi, ditulis oleh seorang pilot pesawat pos Prancis, Antoine de Saint-Exupéry, pada masa awal penerbangan komersial, yaitu sektiar tahun 1926, berisi berbagai pengalamannya selama menjalankan tugas. Buku ini terutama diperuntukkan bagi Henri Guillaumet, pilot senior yang ia kagumi karena keberaniannya “membuka” rute baru untuk daerah-daerah berbahaya bagi penerbangan kala itu. Dengan berbagai kendala teknologi a.l. peralatan navigasi terbatas, kemampuan mesin yang belum canggih dan sebagainya, mereka menjalankan tugas dengan penuh kesetiaan.
             Para pilot itu jarang bertemu, kecuali di satu tempat makan/minum bila sama-sama transit di sana. Dan bila rekan mereka tak ada kabarnya dalam tempo sepuluh menit, dapat dipercaya mereka tewas di pegunungan yang dingin atau di gurun Afrika yang ganas-panas.
Dari pengalamannya sebagai pilot, Antoine menemukan bagaimana cara pandang terhadap bumi di bawahnya, dan ditulisnya secara ekspresif. Di buku digambarkan suka-duka tugas dan kekaguman pilot terhadap rekan senior mereka yang mempengaruhi cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia sampai pada kesimpulan bahwa keharusan-keharusan yang dibebankan oleh suatu profesi mengubah dan memperkaya dunia (hlm. 33). Pertemuan kembali, ditambah jawaban atas pertanyaan yang terputus, membuat hal itu amat berarti sebab masing-masing tak tahu apakah masih bertemu kembali ataukah tidak. “Dengan demikian, bumi terasa gersang sekaligus kaya. Kaya dengan taman rahasianya, tersembunyi, susah dicapai, tetapi profesi selalu mengantar kami kembali ke situ, hari ini atau nanti,” tulisnya (hlm. 39).
Antoine bekerja di perusahaan Latécoère, sebelum diambil alih Aéropostale dan kemudian oleh Air France. Sebagai pilot pemula ia bangga mendapatkan tugas terbang pertamanya dari Toulouse ke Dakkar. Kemudian ia bertugas di berbagai rute a.l. ke Argentina, Chili, dengan melangkahi Samudera Atlantik Selatan yang kaya badai, membedah pegunungan Andes yang ganas.
Ia ceritakan dengan lincah tapi penuh renungan, segala perjuangan para pilot itu di mana batas antara hidup mati setipis udara di atas sana.
Karya Antoine de Saint-Exupéry ini enak dibaca, penuh renungan di sela-sela pertarungan atau petualangan bersama rekan-rekannya antara hidup dan mati di pesawat yang mesinnya rata-rata sering rontok di udara. Sebuah buku yang tak kalah serunya dengan petualangan Dr. Karl May. Di tengah-tengah serbuan buku terlalu “ngepop” dan sulit dimengerti, tiba-tiba saja buku ini muncul mengingatkan kita kembali pada romantisme awal Abad ke-20 lalu.
Ia pernah menulis buku Le Petit Prince, Sang Pangeran Cilik yang cukup terkenal. Dalam menjalankan tugasnya Antoine pernah terdapar di gurun di Libya, ditangkap suku Bedouin dan pendek kata pernah mengalami petualangan a la Old Shatterhand atau Indiana Jones. Ia tewas di wilayah udara Laut Tengah tahun 1944. Penyebabnya tidak jelas, tapi semua percaya ia dan pesawatnya ditembak pesawat tempur Jerman. Jadi penyebabnya masih sebuah misteri melengkapi kehidupan yang pernah ia lakoni.
Buku ini perlu dibaca para remaja masa kini utamanya para pilot muda jaman sekarang yang sudah dimanjakan teknologi, guna mengingatkan kembali bagaimana para perintis penerbangan, para pendahulu mereka, bertarung untuk peradaban berikutnya.



      Aktris Robin Given, bekas istri mantan petinju si “Leher Beton” Mike Tyson, ternyata sudah kehilangan keperawanannya ketika masih remaja. Mau tahu siapa pria beruntung yang mencicipi madu si hitam manis ini? Dialah aktor-pelawak Eddie Murphy.



      Aktris pemain watak Jodie Foster, pernah digulung singa pada usia delapan tahun ketika bermain dalam film kanak-kanak produksi Walt Disney berjudul Napoleon and Samantha. Sampai dewasa ia masih takut melihat binatang ini walau cuma di film.



      Indonesia sedang dilanda demam stand-up comedy. Si Dongok bernafsu ingin tampil. Beberapa kali ia latihan di depan kawan-kawan kuliahnya. Semua berkomentar buruk:
      “Sudah buang mimpimu, jangan tampil besok, banyolanmu payah,” kata seorang di antaranya.
      “Oh, tak apa-apa, orang akan tetap menertawakanku karena itu.”

  • Setelah preview sebuah film selesai, penulis naskah film itu menanyai seorang penonton dengan penuh harap akan pujian, “Apakah Anda merasakan bahwa film itu akhirnya memiliki happy ending yang hebat?” Penonton menjawab acuh tak acuh: “Oh, ya, tentu saja kami semua bahagia setelah akhirnya film itu tamat”.
Cerita pendek



Oleh Adji Subela

       Dua orang berlainan jenis itu masuk ke ruanganku. Tak dapat kutolak. Hari malam mengganas menafsui mereka, lalu keduanya lumpuh sejenak. Menarik nafas, berbenah, lalu pergi. Ini menyakitkanku.
       Pada satu malam lain dua bulan kemudian, dua orang tersebut masuk lagi, duduk-duduk berhadapan. Dua tabung kecil minuman disedotnya. Wajah mereka memerah-merah. Mereka berkata keras-keras, berteriak, memekik, lalu tiba-tiba si pria berdiri lantas mencekik si perempuan. Perempuan itu lemas, kemudian pria berlalu acuh-tak-acuh. Keluar.
       Pria lain lagi, buruk rupanya, datang kemudian ketika malam kian larut menggubrak-gubrak pintuku, mengintip penuh selidik ke dalam ruanganku. Dia tertegun, lantas menyelidik sedapat-dapatnya. Ia terhenyak, lari menjauh.
Malam berikutnya sepi.
       Malam berikutnya kemudian, seorang berpakaian seragam biru-biru menyoroti ruangan dalam memakai lampu senter. Ia nampak kaget kemudian berlalu. Malam makin larut, tapi di sini kian gaduh. Orang-orang berdatangan. Ada yang berpakaian biru-biru gelap, coklat, dan biasa. Mereka membawa lampu besar-besar, ada pula mobil putih memakai lampu kedip di atasnya. Lalu sepi lagi. Orang memasang pita kuning di sekeliling luar ruanganku.

Tahun sebelumnya.
       Tanah itu semula kosong. Pohon-pohon bermunculan tak beraturan, perdu menyemak-nyemak. Burung dan kupu-kupu berterbangan gembira. Lalu tikus-tikus besar berdatangan, dan kucing-kucing liar meramai. Menyebalkan sekali. Orang-orang membuang sampah-sampah ke dalamnya. Daun, kertas, bekas bungkusan, bola lampu yang telah tak terpakai, dan terkadang bangkai tikus atau kucing. Sesekali anjing. Setiap orang yang lewat tanah itu selalu menutupi hidungnya.
       Gelandangan pun tiba. Ia kurus, pucat dan nampak kesakitan bukan main. Ia menenggak sebotol minuman hitam. Lalu ia lemas, tak pernah bergerak lagi. Geger. Banyak orang berdatangan. Orang-orang berseragam mengangkat badan kurus itu pergi, dan kemudian memasang pita kuning. (Jadi di kemudian hari aku mengerti, pita kuning itu selalu berhubungan dengan orang-orang yang tak pernah bergerak lagi!)
       Hari berganti hari tanah menanti tanpa harapan apa pun juga. Lalu datang si pria dan si perempuan itu. Berkata-kata. Tangan-tangan mereka ribut bergerak ke sana ke mari. Mereka beradu mulut. Si pria mengeluarkan selembar kertas lebar bergambar kebiruan. Si perempuan mengeluarkan kertas putih bergambar hitam. Dua-dua kertas dilaganya. Si pria merobek-robek kertasnya, membuang ke udara, lantas mengangkat tangan. Rupanya di perempuan menang. Mungkin. Ia menutup kertas itu lagi, lalu berjalan bersama-sama.
Di luar sana mereka berpisah, naik mobil masing-masing. Sepi kembali.
       Beberapa minggu kemudian orang berdatangan, sibuk membabati perdu-perdu, rumput dan pohon-pohon. Menggali tanah, batu-batu bata didatangkan. Bor tanah itu menyakitkan sekali. Ia menghunjam bumi lalu mereka menancapkan batang-batang besi, mengguyurinya dengan semen. Si pria dan si perempuan sesekali datang bersama. Selalu bersama. Mengangguk-ngangguk, menunjuk-nunjuk. Kelihatannya mereka suka sekali atas semuanya itu.
       Tak lama setelah orang-orang itu menyelesaikan pekerjaannya, lalu pesta diadakan di ruanganku yang luas. Mereka orang-orang aneh, belum pernah ada di sekitar sini. Api-api kecil bernyala-nyala lalu asap berkepul-kepul lalu ruangan dipenuhi gempita jerit dan pekik melentik. Tiba-tiba lampu penerangan padam. Ruanganku gelap, lalu rintihan demi rintihan terdengar lamat-lamat. Kemudian semuanya berlalu disusul si pria dan si perempuan bergegas meninggalkan aku sendiri. Mengherankan.
Sunyi sekali aku sendiri sesudah itu.
       Sepasang orang tua datang suatu ketika, melihat-lihat, kemudian keduanya berunding. Pergilah mereka itu.

Beberapa saat sebelum peristiwa itu.
       Angin meniup begitu kencang, hujan pun mulai turun, daun-daun kering berterbangan, lalu berjatuhan dan berserakan di sana-sini. Sepi tetap saja mencengkeram. Awan pun mulai ganas menggantung di langit. Gelugur guntur sesekali menderu, cercah-cercah air hujan menghantami apa saja. Seram! Cekam! Cengkeram!
       Tak lama kemudian angin mulai mereda, hujan mulai berkurang, tinggal rintik-rintik menitiki daun-daun, rerumputan, dan juga tanah hitam. Jatuh satu demi satu lantas meresap ke kandungan bumi. Dingin. Di kejauhan terlihat empat sorot lampu kendaraan mendekat ke tempatku. Dua-duanya lantas padam. Pintu pagar berderit dan si pria dan si perempuan berlari-lari kecil menghindari rintik hujan, berdekapan. Mereka mengibas-ngibaskan pakaiannya, rambutnya, lalu terdengar kunci pintu diputar. Ringkik-ringkik, cekikik-cekikik. Angin malam tiba-tiba menyerbu sengit.
       Dua orang berlainan jenis itu masuk ke ruanganku. Tak dapat kutolak. Hari malam mengganas menafsui mereka, lalu keduanya lumpuh sejenak. Menarik nafas, berbenah, lalu pergi. Ini menyakitkanku.
       Pada satu malam lain dua bulan kemudian, dua orang yang dulu itu masuk lagi, duduk-duduk berhadapan. Dua tabung kecil minuman disedotnya. Wajah-wajahnya memerah. Mereka berkata keras-keras, berteriak, memekik lalu tiba-tiba si pria berdiri lantas mencekik si perempuan. Perempuan itu lemas, kemudian pria berlalu acuh-tak-acuh. Keluar.
Aku benar-benar dungu tak mampu mencegah semuanya itu. Tapi mau apa? Segalanya telah terjadi di depanku. Sudah.
       Apalagi yang akan terjadi? Aku benar-benar tak tahu. Kurasakan benda-benda di sekitar menyeriut susut makin melilit memelintir kian jauh. Masa pun masih juga kejam. Ia berjalan kencang menyalip peristiwa demi peristiwa. Bagian demi bagian akan lapuk runtuh sedikit demi sedikit.
       Tak ada orang menanyaiku. Ini tak adil. Aku ini dianggap sebagai apa? Padahal aku sudah menyaksikan begitu banyak peristiwa, begitu banyak macam kejadian.

Depok, awal musim penghujan 2009





Oleh Adji Subela

       Hari sudah beringsut malam, arloji telah menunjuk ke angka 23.00 WIB. Hawa dingin pun mulai turun, membasahi Kampung Bulu yang gelap. Kepul asap hio melayang-layang di dalam klenteng mungil di kampung itu, di tengah kerimbunan “hutan” di perbatasan antara Kab. Bogor dan Kota Depok.
Atong di dekat altar
       Doa-doa pun dilantunkan dalam mengharapkan rejeki dan nasib baik di tahun Naga Air 2012 atau 2563 ini. Setelah malam hendak menggelincir ke arah pagi, sesaat kegelapan pecah oleh semburan-semburan nyala kembang api dan petasan yang dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat. Tentu saja perayaan Imlek di sini tak semeriah di Singkawang, Kalbar, seperti yang sudah diceritakan sebelumnya di JURNAL BELLA ini. Atau misalnya di daerah Benteng, Tangerang, atau di daerah Jakarta Kota.
       Perayaan Tahun Baru Imlek di Kampung Bulu, Desa Citayam, Kecamatan Tajurhalang, Bogor ini sederhana sekali. Klenteng mungil itu bernama “Makin Litang Sehati” berdiri di tengah kampung yang masih rimbun oleh berbagai macam pepohonan. Pada siang hari yang panas pun dusun ini terasa sejuk dan damai.Dan bila mengunjungi tempat itu, terasa seolah kita berada di daerah lain di luar Jawa. Pada saat perayaan malam menjelang tahun baru tersebut, warga sekitarnya yang bukan penganut Konghucu ikut meramaikannya. Mereka berkumpul di klenteng mungil yang diresmikan tahun 2006 oleh Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu W.S. Ir. Budisantoso Tanuwibowo, MM ini, sambil mengobrol masalah-masalah sehari-hari.
       Suasananya begitu akrab tak dapat dibedakan mana warga yang menganut Konghucu dan yang bukan. Kehidupan di sana sehari-hari amat menyatu, sejak masa-masa nenek-moyang mereka. Para warga keturunan Tionghoa atau disebut Tenglang, sudah turun-temurun tinggal di Kampung Bulu, menyatu dengan kehidupan penduduk yang umumnya beragama Islam. Seperti Bu Yayah yang berjualan gado-gado di kampung yang berdekatan. Dari wajahnya Nampak ia memang warga keturunan, berasal dari Cianjur. Ia menikah dengan pria keturunan juga warga asli Citayam. Ia lebih suka dipanggil Yayah, atau kadang Ceuceu (kakak) seperti layaknya orang Sunda.
        Ada sekitar 20 keluarga keturunan yang tinggal di kampung Bulu dan sekitarnya, hidup sebagaimana layaknya warga lainnya. “Mereka sulit dibedakan, Pak, sebab ya beginilah kami menjalani hidup sehari-hari,” tutur Atong Phua (41 thn), ketua perkumpulan masyarakat Konghucu setempat dan pengurus klenteng sejak tiga tahun silam.
       “Sesungguhnya saya merasa sungkan, sebab usia dan pengetahuan saya mengenai agama masih terbatas. Tapi karena masyarakat keturunan di sini menghendaki, maka saya jalani,” tambahnya merendah.
Ia merasa masih terlalu muda, masih punya kewajiban untuk membesarkan anak atau menghidupi keluarganya. Terkadang ia harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya di daerah Blok M beberapa hari untuk mengikuti pendidikan agama Konghucu. Repot, memang.
       Atong mengatakan kehidupan beragama warga setempat biasa-biasa saja, tidak pernah ada berlebihan. Untuk Imlek selain pesta kembang api yang jumlahnya sedikit, mereka mengumpulkan angpao (amplop merah berisi uang) seadanya untuk dibagikan kepada para janda serta warga sekitarnya yang berkekurangan, walaupun bukan warga Konghucu. Begitu kebiasaan mereka selama ini. Terkadang datang sumbangan dari daerah lain dari mereka yang memiliki rejeki lebih. Kalau tidak maka Atong sering mengeluarkan uang dari koceknya sendiri.
       Di hari-hari menjelang Imlek, anak-anak dilibatkan untuk mengumpulkan derma dan mencatatnya agar rapi dan dapat dipertanggungjawabkan.
       Ada pun klenteng mungil itu dibangun melalui swadaya masyarakat keturunan di sekitarnya, dengan cara murni gotong-royong. Artinya,mereka mengirim apa yang dipunyainya seperti batu bata, bambu, cat, pasir dan sebagainya. Di masa Orde Baru, mereka menjalankan ibadah dengan seadanya.
Kini mereka sudah bisa memakai nama agamanya dan beribadah dengan lebih bebas. “Tapi warga di sini masih tetap rendah hati, tak pernah menyolok,” tambah Atong dengan logat Betawi pinggiran atau Betawi Ora, sama seperti para tetangganya yang lain.
Latar depan nampak pecak ikan mas dengan bumbu segar.
- Bumbu serba segar dan dimasak mendadak


Masakan pecak ikan populer di kalangan masyarakat Betawi, walaupun jenis ini ada juga di daerah lainnya. Kegemaran orang Betawi akan masakan satu ini mendorong bermunculannya warung-warung tradisional yang menyajikan masakan tersebut. Bahkan kini restoran-restoran klas menengah ikut memasukkannya ke dalam daftar menu mereka.
                Tentu saja yang namanya masakan meskipun diolah dengan resep yang persis sama, rasanya akan lain di tangan koki yang berbeda. Begitu pula pecak ikan. Tiap rumah makan (khususnya Betawi) akan memiliki kekhasannya sendiri. Bagi penggemar pecak dengan rasa rempah-rempah yang kuat, Warung Betawi H. Jaja mungkin bisa jadi pilihan.

Bumbu serba segar
                Pecak di sini dimasak mendadak baik yang model kering maupun yang berkuah. Ikannya boleh bermacam-macam seperti ikan mas, lele, gurami atau terkadang – kalau ada – ikan gabus. Tapi bumbunya sangat istimewa, rempah-rempahnya segar karena dibuat seketika, jadi seperti fresh from the oven…..begitulah. Selain itu rempah-rempah pecak ikan Warung H. Jaja “berani”.
                Bawang merah, cabe rawit, dan jahe ditumbuk kasar, sehingga meyakinkan pelanggan bahwa masakan itu dibuat langsung. Begitu disajikan di meja di depan pelanggan, aroma bawang merah dan jahe langsung merangsek hidung. Lantas ketika dicicipi maka bumbu pecak itu terasa srèèèèèènggg …….langsung mencekam lidah kita.
                Bagi penggemar rasa pedas, disediakan sambel terasi segar, mentah, diuleg agak kasar dan hebatnya terasinya tidak terasa pahit, tapi harum, gurih dan sedap tentu saja.
                Bumbu proses langsung seolah menjadi “brand” Warung H. Jaja. Ini punya latar belakang. Ketika dididirikan tahun 1985, warung masih kecil, dibangun berbagi dengan warung kelontong milik H. Jaja juga. Tahun 2008 lalu, kedua warung dibangun kembali menjadi satu warung makan yang lebih besar seperti sekarang ini. Seiring dengan perkembangan lingkungannya, di mana di seberang warung dibangun kompleks  apartemen Kebagusan City, maka kebutuhan akan warung yang lebih besar mendesak.

Saling melengkapi

                Proses pembangunan apartemen itu membawa berkah bagi Warung H. Jaja, sebab para pekerja bangunan menjadi langganan tetapnya. Ketika mendekati selesai, karyawan klas menengah apartemen ikut mencoba dan malah jadi langganan pula. Sungguh, warung yang berhadapan dengan simbul modernitas berupa apartemen mewah itu, tidak kemudian mati, tapi seolah saling melengkapi. Perkakas warung itu sendiri cukup modern, meja-kursi terbuat dari kayu jati dan lumayan trendy, walaupun dindingnya dibuat dari anyaman bamboo (gedhek) dengan dua warna.
                Kini warung yang terletak di Jalan H. Baung, seberang apartemen Kebagusan City, Kebagusan, Jakarta Selatan, sudah banyak dikenal penggemar masakan Betawi, khususnya pecak. Walaupun menyediakan pula masakan lainnya seperti pepes, sop iga, sayur asem, dll, tapi pecak buatan warung ini lebih disukai pelanggan. Bumbunya betul-betul srèèèèèngggg…….nyem, nyem, nyem……..
               
                 

- Kaya berbagai jenis ikan

            Jika Anda mengadakan perjalanan darat dari Gorontalo menuju ke Palu dan sebaliknya melalui rute Trans-Sulawesi, jangan lewatkan mengunjungi pantai Bolihutuo di Kab. Boalemo. Pantai ini berada kira-kira 120 km ke arah barat ibukota Provinsi, tapi setibanya di sana kepenatan kita terasa terbayar.
            Pantai yang berpasir putih dan dipenuhi pohon cemara tua serta angin laut yang sejuk, memanjakan rasa keindahan kita. Sejumlah warung ikan bakar tradisional juga tersedia. Seringkali bus jurusan Gorontalo-Palu masuk ke pantai yang terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan Trans-Sulawesi untuk membiarkan penumpangnya beristirahat. Jalan yang dulu masih beraspal biasa sejak dua tahun lalu sudah disemen guna memudahkan pengunjung datang ke pantai ini.
            Di ujung barat pantai kita dapat menyaksikan sederet rumah nelayan dengan kegiatan penangkapan ikan sehari-hari. Di tempat ini pula kita masih bisa menyaksikan pohon-pohon cemara tua yang telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Di ujung teluk ada sebaris bukit yang membentuk tanjung menjorok ke laut.
Penginapan. Dibuat dengan nuansa lokal
            Jika cuaca sedang baik, langit terang, air laut memantulkan warna kebiru-biruan dan diselingi warna keputih-putihan. Ketenangan angin membikin permukaan laut menjadi seperti kaca cermin. Baru setelah ada angin bertiup kembali atau ada perahu nelayan melintas maka ketenangan itu pecah oleh riak-riak kecil beriringan.
            Pantai yang merentang sepanjang empat kilometer ini terletak di Teluk Tomini, perairan yang kaya akan berbagai jenis ikan. Dulu terkenal dengan ikan terbang yang dalam bahasa setempat disebut Bolihutuo, sehingga pantai ini dinamakan demikian pula.
            Bagi pengunjung yang ingin menginap, guna menikmati romantisme pantai di waktu malam, tersedia dua unit rumah panggung kayu khas Gorontalo milik Pemkab Boalemo, menghadap ke pantai.
            Di kota Boalemo sendiri, kira-kira 15 km dari pantai Bolihutuo, ada sedikitnya tiga hotel sederhana yang cukup bersih yaitu Hotel Pratama, Hotel Indraloka dan satu lagi yang lebih kecil.
Nampak anak-anak bermain di pasir
            Ada setidaknya enam restoran antara lain Rumah Makan Kairo yang menyediakan masakan Timur Tengah. Ini cukup mengejutkan karena di tengah kota yang penduduknya sehari-hari mengkonsumsi ikan, muncul restoran Timur Tengah. Ada lagi Restoran AZ yang khusus menyajikan masakan daging kambing seperti gulai, kare serta sate. Tiga lagi restoran khusus seafood terdapat di pantai, tak jauh dari gudang  penyimpanan ikan segar.


    Bintang laga yang juga ahli bela diri Aikido, Steven Seagal, memiliki kebun anggur cabernet seluas 200 hektar. Tapi ia kebingungan bagaimana mengolahnya hingga akhirnya diborongkan kepada orang lain untuk dipanen dan diolah jadi minuman anggur. Belakangan ia mengontrakkan kebunnya kepada sebuah perusahaan anggur Kalifornia.


    Bintang The X-Files, David Duchovny, semasa kecil begitu pendiam dan penyendiri sehingga oleh saudara-saudaranya dianggap mengalami keterbelakangan mental dan malah disebut “bego”. Ternyata di kemudian hari dia berhasil meraih gelar PhD di bidang Jurnalistik. Ia malah sempat mengajar di almamaternya namun godaan akting menyeretnya ke dunia film.
   
BUKU

Oleh Adji Subela

Judul                   : Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca
Penulis               : Hadi Sidomulyo
Kata Pengantar : Prof. Dr. Edi Sedyawati
                                    Penerbit             : Wedatama Widya Sastra bekerja sama dengan Yayasan Nandiswara, Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Universitas Negeri Surabaya (UNESSA)
Jumlah halaman : xvix + 180
Ukuran buku       : 15 cm x 23 cm
Kertas                 : HVS 80 gram


              Luar biasa sekali. Seorang peneliti dari negeri seberang begitu gandrung pada sejarah Indonesia, khususnya Jawa Timur dan terutama sekali Majapahit. Ia rela malang-melintang di pedalaman-pedalaman Jawa Timur guna meneliti peninggalan-peninggalan sejarah daerah itu.       
             Salah satu hasilnya yang sangat penting adalah buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca. Penulis menyusuri kembali rute perjalanan Raja Majapahit Hayam Wuruk di tahun 1359 M, berdasarkan kakawin Dešawarnana yang lebih terkenal sebagai Nãgarakrêtãgama. Kakawin ini dianggap tidak sehebat kakawin karya para Mpu sebelumnya, tapi dari sisi sejarah, Nãgarakrêtãgama sangat berharga, sebab merekam secara lumayan teliti tempat, waktu, dan acara Prabu Hayam Wuruk dalam satu penggal waktu masa kepemerintahannya di Majapahit.
             Buku ini cukup penting sebab membedah kembali Nãgarakrêtãgama dari sisi geografi dan toponiminya, suatu yang belum pernah dilakukan semendalam itu. Ia betul-betul mengadakan perjalanan sesuai apa yang disebutkan kakawin karya Mpu Prapañca lengkap dengan interpretasi-interpretasi karena beberapa tempat sudah berganti nama.
             Hadi Sidomulyo membuktikan bahwa sebagian besar tempat yang disebut Mpu Prapañca masih bisa ditemukan termasuk tempat yang oleh para peneliti sebelumnya, Pigeaud, disebut unkown (Hlm.6). Rute perjalanan Hayam Wuruk disebut Hadi Sidomulyo sebagai masih amat kaya bukti sejarah (Hlm.7). Ia menyatakan kecemasannya akan kelestarian bukti-bukti sejarah itu hingga perlu segera diadakan inventarisasi.
Hadi Sidomulyo
             Penulis melengkapi bukunya dengan 23 foto dokumentasi lokasi maupun petilasan-petilasan serta 11 peta rute perjalanan Hayam Wuruk berdasarkan laporan “jurnalistik” “wartawan Istana” Abad ke-14 tersebut. Hadi Sidomulyo menjadikan kakawin Nãgarakrêtãgama, Calon Arang, Tantu Panggêlaran dan kisah perjalanan Bujangga Manik sebagai pegangan dan berkesimpulan bahwa tiga naskah terakhir tersebut memperkuat catatan dalam Nãgarakrêtãgama.
Buku ini tentu saja ditulis tidak kaku sebagaimana galibnya buku ilmiah, tapi karena ia menceritakan proses pengembaraannya menyusuri rute Hayam Wuruk tahun 1359 itu maka cukup menarik untuk dibaca.
Nama penulis buku ini memang Hadi Sidomulyo, seorang “Jawa” tapi ia lahir di Inggris dan diberi nama Nigel Bullough oleh orangtua kandungnya yang asli Inggris juga. Ia gandrung pada sejarah Majapahit dan Jawa Timur pada umumnya, dan sejak 1972 sudah banyak menulis buku maupun artikel menyangkut sejarah dan budaya Jawa. Malahan antara tahun 1985 hingga 1994 ia dipercaya Gubernur Jatim waktu itu, Sularso, untuk menyusun buku promosi pariwisata. Ia juga membantu Pemda Yogyakarta untuk promosi Wisata Budaya. Maka sobat-sobatnya menyebut Hadi sebagai orang Jawa kelahiran Inggris. Menikah dengan gadis Solo ia kini tinggal di Bali.
Buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca karya “Pak Lik” Hadi Sidomulyo ini cukup penting untuk dijadikan pegangan peneliti sejarah Majapahit.
Copyright © Jurnal Bella .